Berinovasi Kini, Menjaga Pangan Masa Depan, dari Kekayaan yang Tumbuh di Tanah Sendiri
Maros, (16/10) – Setiap 16 Oktober, dunia memperingati Hari Pangan Sedunia. Tanggal ini mengacu pada berdirinya FAO pada 16 Oktober 1945, dan peringatannya ditetapkan negara-negara anggota pada 1979. Tahun ini FAO mengusung tema "Innovate Today, Nourish Tomorrow". Tema ini mengajak dunia memadukan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi dengan pengetahuan tradisional agar sistem pangan memberi gizi hari ini dan melindungi sumber daya generasi mendatang.
Persoalannya masih besar. Laporan FAO tentang ketahanan pangan dan gizi dunia 2025 mencatat 733 juta orang mengalami kelaparan pada 2024, sekitar satu dari sebelas orang di dunia. Pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga akses terhadap makanan yang cukup, bergizi, dan berkelanjutan.
Pesan dari Ibu Kimpul, Inovasi Bisa Dimulai dari Pangan Lokal
Salah satu suara yang relevan datang dari Suratini, yang lebih dikenal sebagai Ibu Kimpul atau Ibu Tin. Ia berasal dari Kulonprogo, kini tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan dikenal lewat akun @black.sheep8208 di TikTok dan Instagram. Ciri khasnya adalah slogan "Karena tidak ada, jadi saya ganti dengan kimpul".
Dalam videonya menyambut Hari Pangan, Ibu Kimpul menata di depannya aneka bahan pangan lokal. Pesannya yang disampaikan bahwa kita sering asing dengan kekayaan sendiri, lebih antusias mengenal pangan dari luar negeri, tetapi kadang tidak mengenal kekayaan yang tumbuh di tanah sendiri. Padahal keragamannya nyata, mulai dari sumber karbohidrat, biji-bijian atau serealia, buah, hingga sayur, dan dengan inovasi semuanya bisa menjadi begitu banyak olahan.
Hari Pangan menjadi pengingat bahwa pangan bukan hanya soal apa yang kita makan, tetapi juga tentang menghargai proses dari sebutir biji sampai ke piring, menjaga sumber kehidupan, mendukung kesejahteraan petani, dan menjaga kelestarian alam. Mengenal pangan lokal bukan berarti meninggalkan atau menggantikan yang biasa kita konsumsi, melainkan memperkaya pilihan di meja makan.
Sumber pangan yang tersedia pun bukan hal baru, sebab ketika kita mulai mengenal dan mengolahnya, kita sebenarnya meneruskan jejak leluhur yang lebih dulu mengenal kekayaan itu. Saatnya mengubah stigma makanan yang dianggap "makanan kuno" bisa menjadi makanan sehat. Kekayaan itu ada di depan mata, tinggal kita mau melihat dan merawatnya.
Di meja Ibu Kimpul tampak puluhan bahan yang masih jarang kita sebut. Ada serealia seperti jagung putih dan kuning, sorgum merah dan putih, hanjeli, jumawut, oyek, tiwul, serta beras hitam, ungu, dan cokelat. Ada juga kacang-kacangan seperti benguk, koro, dan kacang ijo. Buah-buahan lokal seperti pisang genderuwo, mundu, dan kedondong turut hadir, begitu pula sayuran seperti genjer, ningkir, keciwis, dan jantung pisang. Banyak di antaranya jarang kita jumpai di meja makan harian, padahal tumbuh di tanah kita sendiri.
Inovasi Hari Ini, Gizi Esok Hari
Pesan Ibu Kimpul sejalan dengan tema tahun ini:
- Innovate today. Inovasi tidak selalu berarti teknologi canggih. Ia bisa berupa kreativitas mengolah bahan lokal menjadi sajian yang disukai. Slogan "Karena tidak ada, jadi saya ganti dengan kimpul" menggambarkan semangat itu: memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita.
- Nourish tomorrow. Pangan lokal yang beragam, bergizi, dan dekat dengan petani menopang pangan masa depan. Menghargai proses dari biji sampai piring berarti menjaga petani dan alam sekaligus.
Pemikiran itu juga tergambar di kantin sekolah. Anak-anak yang mengantre mengambil nasi, lauk, dan sayur adalah generasi yang kelak menentukan wajah pangan kita.
Komitmen Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional
Peringatan Hari Pangan Sedunia menjadi momentum memperkuat komitmen membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan. Melalui inovasi, pemanfaatan teknologi, mekanisasi, dan kolaborasi, Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional terus mendorong transformasi pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat kemandirian pangan nasional. Sembari terus melakukan Gerakan Pangan Murah (GPM) Nasional, Pendidikan Pangan Lokal Berbasis Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA), serta Penyelamatan Pangan (Food Loss and Waste).
Sebab, langkah yang kita ambil hari ini menentukan ketersediaan pangan bagi generasi mendatang. Bersama petani dan seluruh pemangku kepentingan, mari terus bergerak mewujudkan pangan yang cukup, bergizi, aman, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Terima kasih telah membaca artikel kami. Kami ingin mengajak Anda untuk terus menjelajahi dan memperdalam pengetahuan Anda. Temukan berita terbaru dan artikel bermanfaat dengan mengklik tautan berikut "Klik di sini".
Jurnalis: Muchammad Fatchur Rizza.